Minggu, 17 November 2013

ASKEP CVA (Cerebro Vaskuler Accident)

oke teman2 disini saya akan sedikit membahas tentang penyakit CVA (Cerebro Vaskuler Accident).
langsung cekidot aja dah... ketimbang bertele2. hehehe...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CVA



BAB I
PENDAHULUAN

CVA atau Cerebro Vaskuler Accident biasa di kenal oleh masyarakat dengan istilah Stroke.Istilah ini lebih populer di banding CVA. Kelainan ini  terjadi pada organ otak. Lebih tepatnya adalah Gangguan Pembuluh Darah Otak.
Berupa penurunan kualitas pembuluh darah otak.Stroke menyebabkan angka kematian yang tinggi. Kejadian sebagian besar dialami oleh kaum lai-laki daripada wanita (selisih 19 %  lebih tinggi)dan usia umumnya di atas 55 tahun.
                                                                   
















BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP MEDIS
a.      PENGERTIAN
stroke atau cedera serebro vaskuler (cva), adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak.

b.      ETIOLOGI
Pecahnya pembuluh darah otak sebagian besar diakibatkan oleh rendahnya kualitas pembuluh darah otak. Sehingga dengan adanya tekanan darah yang tinggi pembuluh darah mudah pecah.
1.      Trombosis (bekuan darah didalam pembuluh darah otak atau leher)
2.      Embolisme serebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa keotak dari bagian-  bagian tubuh yang lain)
3.      Iskemia (penurunan aliran darah kearea otak)
4.      Hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan kedalam jaringan otak atau ruang sekitar otak).
Faktor resiko dan pencegahan
1.      Hipertensi merupakan faktor resiko utama
2.      Penyakit kardiovaskuler (embolisme serebral mungkin berasal dari jantung)
3.      Kadar hematokrit normal tinggi (yang berhubungan dengan infark serebral)
4.      Diabetes (peningkatan aterogenesis)
5.      Kontrasepsi oral, peningkatan oleh hipertensi yang menyertai, usia diatas 35 tahun, perokok kretek, dan kadar estrogen yang tinggi
6.      Penurunan tekanan darah yang berlebihan atau dalam jangka panjang dapat menyebabkan iskemia serebral umum
7.      Penyalahgunaan obat, terutama pada remaja dan dewasa muda
8.      Konsulkan individu yang muda untuk mengontrol lemak darah (kolesterol), tekanan darah, merokok kretek, dan obesitas
9.      Mungkin terdapat hubungan antara konsumsi alkohol dengan stroke
Faktor resiko terjadinya stroke ada 2 :
1.Faktor resiko yang dapat diobati / dicegah :
§  Perokok.
§  Penyakit jantung ( Fibrilasi Jantung )
§  Tekanan darah tinggi.
§  Peningkatan jumlah sel darah merah ( Policitemia).
§  Transient Ischemic Attack ( TIAs).

2.Faktor resiko yang tak dapat di rubah :
§  Usia di atas 65.
§  Peningkatan tekanan karotis ( indikasi terjadinya artheriosklerosis yang meningkatkan resiko serangan stroke).
§  DM.
§  Keturunan ( Keluarga ada stroke).
§  Pernah terserang stroke.
§  Race ( Kulit hitam lebih tinggi )
§  Sex ( laki-laki lebih 30 % daripada wanita ).


c.       KLASIFIKASI
Secara klinis stroke di bagi menjadi :
1.      Serangan Ischemia Sepintas ( Transient Ischemia Attack / TIA ).
2.      Stroke Ischemia ( Stroke non Hemoragik ).
3.      Stroke Hemoragik.
4.      Gangguan Pembuluh Darah Otak Lain.
Sumber : 2000, Harsono ED, Kapita Selekta  Neurologi, Gajah Mada UP, hal : 84.





d.      MANIFESTASI KLINIK

1.      Jika terjadi peningkatan TIK maka dijumpai tanda dan gejala :
§  Perubahan tingkat kesadaran : penurunan orientasi dan respons terhadap stimulus.
§  Perubahan kemampuan gerak ekstrimitas : kelemahan sampai paralysis.
§  Perubahan ukuran pupil : bilateral atau unilateral dilatasi.Unilateral tanda dari perdarahan cerebral.
§  Perubahan tanda vital : nadi rendah, tekanan nadi melebar, nafas irreguler, peningkatan suhu tubuh.
§  Keluhan kepala pusing.
§  Muntah projectile ( tanpa adanya rangsangan ).
2.Kelumpuhan dan kelemahan.
3.Penurunan penglihatan.
4.Deficit kognitif dan bahasa ( komunikasi ).
5.Pelo / disartria.
6.Kerusakan Nervus Kranialis.
7.Inkontinensia alvi dan uri.















e.       PATOFISIOLOGI
Faktor penyebab :
Kualitas pembuluh darah tidak baik
Trombosis  pembuluh darah ( trombosis serebri ).
Emboli a.l  dari jantung (emboli serebri ).
Arteritis sebagai akibat lues / arteritis temporalis.




Penurunan Blood Flow ke otak
6.Kecemasan ancaman kematian.
7.Kurangpengetahuan
   prognosis dan terapi.
 
Ischemia dan hipoksia jaringan otak

Infark otak


EDEMA JARINGAN OTAK





8.Resiko injury
9.Gangguan nutrisi (kurang dari  kebutuhan   tubuh ).
10.Inkoninensia uri.
11.Inkontinensia alfi.
12.Resiko kerusakan integritas    kulit.
13.Kerusakan komunikasi verbal.
14.Inefektif bersihan jalan nafas.
 

1.Jalan nafas tak efektif.
2.Resiko peningkatan TIK.
3.Intoleransi aktifitas (ADL )
4.Kerusakan mobilitas fisik.
5.Defisit perawatan diri.
 

Kematian sell otak
Kerusakan sistem motorik dan sensorik
NEU( DEFICIT ROLOGIS )
§  Kelumpuhan /  hemiplegi
§  Kelemahan / paralyse
§  Penurunan kesadaran dan Dysphagia


(Sumber : Susan C.dewit, ESSENTIALS OF MEDICAL SURGICAL NURSING, W.B SOUNDERS COMPANY, 1998, hal.350 dan 363).



f.       PENATALAKSAAN

PENATALAKSANAAN MEDIK.
A.PEMERIKSAAN PENUNJANG.
1.LABORATORIUM.
§  Hitung darah lengkap.
§  Kimia klinik.
§  Masa protombin.
§  Urinalisis.
2.DIAGNOSTIK.
§  SCAN KEPALA
§  Angiografi serebral.
§  EEG.
§  Pungsi lumbal.
§  MRI.
§  X ray tengkorak
B.PENGOBATAN.
1.Konservatif.
a.Pemenuhan cairan dan elektrolit dengan pemasangan infus.
b.Mencegah peningkatan TIK.
§  Antihipertensi.
§  Deuritika.
§  Vasodilator perifer.
§  Antikoagulan.
§  Diazepam bila kejang.
§  Anti tukak misal cimetidine.
§  Kortikosteroid : pada kasus ini tidak ada manfaatnya karena  klien akan mudah terkena infeksi, hiperglikemi dan stress ulcer/perdarahan lambung.
§  Manitol : mengurangi edema otak.

2.Operatif.
Apabila upaya menurunkan TIK tidak berhasil maka perlu dipertimbangkan evakuasi hematom karena hipertensi intrakranial yang menetap akan membahayakan kehidupan  klien.
3.Pada fase sub akut / pemulihan ( > 10 hari )  perlu :
§  Terapi wicara.
§  Terapi fisik.
§  Stoking anti embolisme.



VI. KOMPLIKASI DAN PENCEGAHAN  STROKE.
§  Aspirasi.
§  Paralitic illeus.
§  Atrial fibrilasi.
§  Diabetus insipidus.
§  Peningkatan TIK.
§  Hidrochepalus.
PENCEGAHAN :
§  Kontrol teratur tekanan darah.
§  Menghentikanmerokok.
§  Menurunkan konsumsi kholesterol dan kontrol  cholesterol rutin.
§  Mempertahankan kadar gula normal.
§  Mencegah minum alkohol.
§  Latihan fisik teratur.
§  Cegah obesitas.
§  Mencegah penyakit jantung dapat mengurangi resiko stroke.














ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN CVA

I.IDENTITAS PASIEN.
Nama                           :
Umur                           :
Jenis kelamin               :
Suku/bangsa                :
Agama                         :
Pekerjaan                     :
Pendidikan                  :
Alamat                        :
Alamat dirawat           :
Keluhan utama sebelumnya / saat ini:
Penurunan kesadaran.

Upaya yang telah dilakukan :
Di bawa ke RSUD dr.Bhakti Husada untuk menjalani perawatan.

Terapi operasi yang pernah dilakukan :

II.RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY).
2.1 Riwayat Penyakit Sebelumnya     :
Tidak didapatkan riwayat DM, Hipertensi, merokok selama 60 tahun habis 1-2 pak perhari.
2.2 Riwayat Penyakit Sekarang          :
Mulai tanggal 29/10 2002  kesadaran menurun sejak  tadi malam di Rumah Sakit Delta Surya mendadak memberat.Lalu di rujuk ke RSUD Dr.Sutomo.Penderita mengalami kelemahan anggota gerak sebelah kanan tanggal 28/10 2002 jam.06 pagi ketika menyapu halaman  dan terjadinya mendadak, sebelumnya klien merasa lemah.Bibir terasa tebal.
2.5 Riwayat kesehatan lainnya :
Pasien  Ibu (Keluarga Berencana) :

PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR.
AKTIVITAS
SKOR
0
1
2
3
4
Mandi




Ö
Berpakaian / berdandan




Ö
Eliminasi




Ö
Mobilisasi di tempat tidur




Ö
Pindah




Ö
Ambulasi




Ö
Naik tangga




Ö
Belanja




Ö
Memasak




Ö
Merapikan rumah




Ö

Keterangan :
0          : mandiri
1          : dibantu sebagian
2          : perlu bantuan orang lain
3          : perlu bantuan orang lain dan alat
4          : tergantung / tidak mampu





III.OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK.
1.Keadaan umum        : tampak lemah, kesadaran apatis.
2.Tanda-tanda vital     :
S          : 37 ‘C
N         : 88 x /m
TD       : 125/52
            R         : 26
            HR      : teratur
           Sp O2  : 95 %

3.Body Sistem.

3.1 PERNAFASAN(BI : BREATHING).
Bentuk dada normal.Pergerakan dada simetris.Sekresi sputum tampak di bibir dan hidung.Refleks batuk lemah.Pola nafas kusmaull ( dalam dan dangkal ), bunyi nafas ronkhi, gambaran foto torak paru tampak daerah fluid  level.Memakai alat bantu nafas / ventilator.

3.2 CARDIOVASKULER ( B II : BLEEDING).
Bunyi jantung S1 dan S2 tunggal.Letak jantung normal.Ictus cordis terlihat.

3.3 PERSYARAFAN ( B III : BRAIN).
Kejang -.Kaku kuduk -.
Reflek  patologis.
Jenis Reflek
Tungkai
Kanan
Kiri
1.      Babinski
2.      Chaddock
3.      Oppenheim
4.      Rossolimo
5.      Gardon
6.      Schaefer
7.      Mendel-Bechterene
8.      Starnsky
9.      Gonda
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-
+

3.4 PERKEMIHAN – ELIMINASI URI ( B IV : BLADDER).
Terpasang kateter.Warna urine kuning.Produksi urine pukul 10.00  100 cc.

3.5 PENCERNAAN – ELIMINASI ALVI (BV : BOWEL).
Mulai kemarin belum BAB.Terpasang NG tube.Reflek menelan menurun.

3.6 TULANG – OTOT – INTEGUMEN ( B VI : BONE ).
Tampak kelumpuhan tungkai dan tangan kanan.

3.7 SISTEM ENDOKRINE.
Tak di temukan kelainan.

3.8 SOSIAL INTERAKSI.
Hubungan dengan klien : selama pengkajian dan perawatan klien dalam kondisi kesadaran menurun.
Dukungan keluarga : baik di tandai dengan keluarga sering menjenguk kien di ruangan ICU pada jam besuk.
Dukungan kelompok, teman, masyarakat : baik di tandai dengan pengunjung yang datang adalah teman dan tetangganya.
Reaksi saat interaksi : klien kesadaran menurun.
Konflik yang terjadi terhadap : menurut keluarga tidak ada.

3.9 SPIRITUAL ( tak terkaji karena klien kesadaran menurun ).
Konsep tentang penguasa kehidupan
Sumber kekuatan danharapan di saat sakit.
Ritual agama yang berarti / bermakna / diharapkan saat ini :
Sarana / peralatan / orang yang di perlukan untuk melaksanakan ritual agama yang diharapkan saat ini :
Upaya kesehatan yang bertentangan dengan agama :
Keyakinan / kepercayaan bahwa Tuhan akan menolong dalam menghadapi situasi sakit saat ini :
Keyakinan / kepercayaan bahwa penyakit dapat disembuhkan :
Persepsi terhadap penyebab penyakit.


PEMERIKSAAN PENUNJANG.
Tgl
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Harga Normal
Satuan
Laki
Perempuan
2/11
HB
PCV
ERITROSIT
LEKOSIT

HITUNG JENIS


LED
TROMBOSIT
14
43
4.450.000
8.900

-/-/-/-/89/11/-


85
166.000
13.5-18
40-54
4.5-6
4.000-11.000
1-2/0-1/3-5/54-62/25-33/3-7

0-15
150.000-450.000
11.5-16
35-47
3-6





0-20
g/dl
%
juta/m l
/m l




mm/jam
/m l

4/11
PH
PCO2
PO2
HCO3
BE
Sr O2
Na
K
Cl
GDA
7.445
30.6
63.5
23.0
0.8
94
138.7
2.63
102.0
192
7.35-7.45
35-45
80-100



135-148
3.5-4.5
98-107




MMOL/L
MMOL/L
%
6/11
HB
PCV
ERITROSIT
LEKOSIT

HITUNG JENIS


LED
TROMBOSIT
14
43
4.450.000
8.900

-/-/-/89/11/-


45
13.5-18
40-54
4.5-6
4.000-11.000
1-2/0-1/3-5/54-62/25-33/3-7

0-15
150.000-450.000
11.5-16
35-47
3-6





0-20
g/dl
%
juta/m l
/m l




mm/jam
/m l


TERAPI.
1.      Pasang respirator SIM V
2.      Fi O2 40 % PEEP
3.      Head up
4.      Fisioterapi dada
5.      Nebulizer
6.      Suqtion
7.      Oral higiene 2 x/hari
8.      Infus R D 5% 500cc / 24 jam.
9.      Sonde entrasol 6 x 250 cc
10.  Sonde susu 1 x 250 cc
11.  Juice buah 1 x 250 cc
12.  Injeksi :
Ø  Nicholin 3 X 1 ampul
Ø   Maxipim 3 X 1 gram
Ø  cravit 1 x 500 mg IV
Ø  fluimycil 3 X 15 cc
Ø  sucralfat 3 X 15 cc
Ø  dopamin drip 3
Ø  observasi vital sign, kesadaran, produksi urine.



B.DIAGNOSA YANG MUNCUL.
1.      Resiko peningkatan TIK berhubungan dengan  penambahan  isi otak sekunder terhadap perdarahan otak .
2.      Intoleransi aktifitas (ADL) berhubungan dengan kehilangan kesadaran,kelumpuhan.
3.      Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan kelumpuhan.
4.      Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan dan kelumpuhan.
5.      Kecemasan (ancaman  kematian) berhubungan dengan kurang  informasi prognosis dan terapi.Kurang pengetahuan prognosis dan terapi berhubungan dengan kurang informasi, salah interpretasi.
6.      Resiko injury berhubungan dengan kelemahan dan kelumpuhan, penurunan kesadaran.
7.      Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh ) berhubungan dengankesulitan menelan(disfagia), hemiparese dan hemiplegi.
8.      Inkoninensia uri berhubungan dengan defisit neurologis.
9.      Inkontinensia alfi berhubungan dengan  kerusakan mobilitas dan kerusakan neurologis.
10.  Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan mobilitas, parise dan paralise.
11.  Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakmampuan bicara verbal atau tidak mampu komunikasi.
12.  Gangguan persepsi sensori : perabaan yang berhubungan dengan penekanan pada saraf sensori.
13.  Resiko terjadinya : kekeringan kornea, Pneumonia ortostatik sekunder  kehilangan kesadaran.








C.INTERVENSI KEPERAWATAN.

Rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah :

1.RESIKO PENINGKATAN TIK BERHUBUNGAN DENGAN  PENAMBAHAN  ISI OTAK SEKUNDER TERHADAP  HIPOKSIA, EDEMA OTAK.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak mengalami peningkatan tekanan intra kranial .
Kriteria hasil :
Tidak terdapat tanda peningkatan tekanan intra kranial :
§  Peningkatan tekanan darah.
§  Nadi melebar.
§  Pernafasan cheyne stokes
§  Muntah projectile.
§  Sakit kepala hebat.
Pencegahan TIK meningkat di laksanakan.
Intervensi.
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1.       
Pantau tanda dan gejala peningkatan TIK
§  tekanan darah
§  nadi
§  GCS
§  Respirasi
§  Keluhan sakit kepala hebat
§  Muntah projectile
§  Pupil unilateral
Deteksi dini peningkatan TIK untuk melakukan tindakan lebih lanjut.
2.       
Tinggikan kepala tempat tidur 15-30 derajat kecuali ada kontra indikasi.Hindari mengubah posisi dengan cepat.
Meninggikan kepala dapat membantu drainage vena untuk mengurangi kongesti vena.
3.       
Hindari hal-hal berikut :
Masase karotid



Fleksi leher atau rotasi > 45 derajat.



Rangsangan anal dengan jari(boleh tapi dengan hati-hati ) hindari mengedan, fleksi ekstrem panggul dan lutut.




Masase  karotid memperlambat frekuensi jantung dan mengurangi sirkulasi sistemik yang diikuti peningkatan sirkulasi secara tiba-tiba.
Fleksi atau rotasi ekstrem leher mengganggu  cairan cerebrospinal dan drainage vena dari rongga intra kranial.
Aktifitas ini menimbulkan manuver valsalva yang merusak aliran balik vena dengan kontriksi vena jugularis dan peningkatan TIK.
4.       
Konsul dokter untuk mendapatkan pelunak feces jika di perlukan.
Mencegah konstipasi dan mengedan yang menimbulkan manuver valsalva.
5.       
Pertahankan lingkungan  tenang, sunyi dan pencahayaan redup.
Meningkatkan istirahat dan menurunkan rangsangan membantu menurunkan TIK.
6.       
Berikan obat-obatan sesuai dengan pesanan:
§  Anti hipertensi.

§  Anti koagulan.

§  Terapi intra vena pengganti cairan dan elektrolit.
§  Pelunak feces.
§  Anti tukak.
§  Roborantia.

§  Analgetika.
§  Vasodilator perifer.


§  Menurunkan tekanan darah.
§  Mencegah terjadinya trombus.
§  Mencegah defisit cairan.

§  Mencegah obstipasi.
§  Mencegah stres ulcer.
§  Meningkatkan daya tahan tubuh.
§  Mengurangi nyeri.
§  Memperbaiki sirkulasi darah otak.

2.GANGGUAN MOBILITAS FISIK BERHUBUNGAN DENGAN HEMIPARESE / HEMIPLEGIA

Tujuan :
Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya

Kriteria hasil
1.      Tidak terjadi kontraktur sendi
Bertambahnya kekuatan otot
2.      Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas

Intervensi.
INTERVENSI
RASIONAL
1.      Ubah posisi klien tiap 2 jam


2.      Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas yang tidak sakit
3.      Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit
4.      Berikan papan kaki pada ekstrimitas dalam posisi fungsionalnya
5.      Tinggikan kepala dan tangan
6.      Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien

§  Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan
§  Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan
§  Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan


3.GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : PERABAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENEKANAN PADA SARAF SENSORI.

Tujuan :
Meningkatnya persepsi sensorik : perabaan secara optimal.

Kriteria hasil :
§  Klien dapat mempertahankan tingakat kesadaran dan fungsi     persepsi
§  Klien mengakui perubahan dalam kemampuan untuk meraba dan merasa
§  Klien dapat menunjukkan perilaku untuk mengkompensasi terhadap perubahan sensori

INTERVENSI
RASIONAL
1.      Tentukan kondisi patologis klien


2.      Kaji kesadaran sensori, seperti membedakan panas/dingin, tajam/tumpul, posisi bagian tubuh/otot, rasa persendian



3.      Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan, seperti memberikan klien suatu benda untuk menyentuh, meraba. Biarkan klien menyentuh dinding atau batas-batas lainnya.

4.      Lindungi klien dari suhu yang berlebihan, kaji adanya lindungan yang berbahaya. Anjurkan pada klien dan keluarga untuk melakukan pemeriksaan terhadap suhu air dengan tangan  yang normal
5.      Anjurkan klien untuk mengamati kaki dan tangannya bila perlu dan menyadari posisi bagian tubuh yang sakit. Buatlah klien sadar akan semua bagian tubuh yang terabaikan seperti stimulasi sensorik pada daerah yang sakit, latihan yang membawa area yang sakit melewati garis tengah, ingatkan individu untuk merawata sisi yang sakit.
6.      Hilangkan kebisingan/stimulasi eksternal yang berlebihan.


7.      Lakukan validasi terhadap persepsi klien

1.      Untuk mengetahui tipe dan lokasi yang mengalami gangguan, sebagai penetapan rencana tindakan
2.      Penurunan kesadaran terhadap sensorik dan perasaan kinetik berpengaruh terhadap keseimbangan/posisi dan kesesuaian dari gerakan yang mengganggu ambulasi, meningkatkan resiko terjadinya trauma.
3.      Melatih kembali jaras sensorik untuk mengintegrasikan persepsi dan intepretasi diri. Membantu klien untuk mengorientasikan bagian dirinya dan kekuatan dari daerah yang terpengaruh.
4.      Meningkatkan keamanan klien dan menurunkan resiko terjadinya trauma.




5.      Penggunaan stimulasi penglihatan dan sentuhan membantu dalan mengintegrasikan sisi yang sakit.







6.      Menurunkan ansietas dan respon emosi yang berlebihan/kebingungan yang berhubungan dengan sensori berlebih.
7.      Membantu klien untuk mengidentifikasi ketidakkonsistenan dari persepsi dan integrasi stimulus.


4.KURANGNYA PERAWATAN DIRI BERHUBUNGAN DENGAN HEMIPARESE/HEMIPLEGI  DAN KEHILANGAN KESADARAN.

Tujuan
Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi
Kriteria hasil
§  Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuan klien
§  Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan

INTERVENSI
RASIONAL
1.      Tentukan kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri.

2.      Beri motivasi kepada klien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri bantuan dengan sikap sungguh
3.      Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan klien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan.





4.      Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukannya atau keberhasilannya
5.      Kolaborasi dengan ahli fisioterapi/okupasi

1.      Membantu dalam mengantisipasi/merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual
2.      Meningkatkan harga diri dan semangat untuk berusaha terus-menerus
3.      Klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi, adalah penting bagi klien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk diri-sendiri untuk mempertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan
4.      Meningkatkan perasaan makna diri dan kemandirian serta mendorong klien untuk berusaha secara kontinyu
5.      Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus


5.RESIKO GANGGUAN NUTRISI KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH BERHUBUNGAN DENGAN KELEMAHAN OTOT MENGUNYAH DAN MENELAN SEKUNDER KEHILANGAN KESADARAN.
Tujuan
Tidak terjadi gangguan nutrisi
Kriteria hasil
§  Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan
§  Hb dan albumin dalam batas normal
INTERVENSI
RASIONAL
1.      Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah, menelan dan reflek batuk
2.      Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, selama dan sesudah makan
3.      Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan diatas bibir/dibawah dagu jika dibutuhkan
4.      Letakkan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu


5.      Berikan makan dengan berlahan pada lingkungan yang tenang

6.      Mulailah untuk memberikan makan peroral setengah cair, makan lunak ketika klien dapat menelan air
7.      Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan

8.      Anjurkan klien untuk berpartisipasidalam program latihan/kegiatan.

9.      Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan ciran melalui iv  atau makanan melalui selang
1.      Untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan pada klien
2.      Untuk klien lebih mudah untuk menelan karena gaya gravitasi
3.      Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler


4.      Memberikan stimulasi sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan
5.      Klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar
6.      Makan lunak/cairan kental mudah untuk mengendalikannya didalam mulut, menurunkan terjadinya aspirasi
7.      Menguatkan otot fasial dan dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya tersedak
8.      Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang meningkatkan nafsu makan
9.      Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika klien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut


Evaluasi

      Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang di sengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien, perawat, dan anggota tim kesehatan lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang kesehatan, patofisiologi, dan strategi evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang. (Lismidar, 1990).






















DAFTAR PUSTAKA.

1.      Marylin Doengus , TERJEMAHAN RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN , EGC, 1999.
2.      Lynda Jual C ,RENCANA ASUHAN DAN DOKUMENTASI KEPERAWATAN, EGC,1999.
3.      Anna Owen ,PEMANTAUAN PERAWATAN KRITIS, , EGC, 1997.
4.      Susan C.dewit, ESSENTIALS OF MEDICAL SURGICAL NURSING, W.B SOUNDERS COMPANY, 1998
5.      Harsono,ED, NEUROLOGI KLINIS, GAJAH MADA UNIVERSITY PRESS, 1996.
2000, Harsono ED, KAPITA SELEKTA  NEUROLOGI, Gajah Mada UP.

[URL=http://www.neobux.com/?r=vickryvick][IMG]http://images.neobux.com/imagens/banner9.gif[/IMG][/URL]
http://images.neobux.com/imagens/banner9.gif
<a href="http://www.neobux.com/?r=vickryvick"><img src="http://images.neobux.com/imagens/banner9.gif" width="468" height="60"></a>
http://www.neobux.com/?r=vickryvick 

0 komentar:

Posting Komentar

 
;